Thursday, May 20, 2010

Pentingnya sebuah Keyakinan

Seorang profesor filosofi yang atheis berbicara dalam kelasnya mengenai masalah antara ilmu pengetahuan dan Tuhan. Dia bertanya pada salah seorang mahasiswa baru.

Profesor (prof): Jadi, kamu percaya pada Tuhan?
Mahasiswa (ms): Tentu, prof.
Prof: Apakah Tuhan itu baik?
Ms: Tentu
Prof: Apakah Tuhan mahabisa?
Ms: Ya
Prof: Saudaraku meninggal karena kanker meskipun dia telah berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkannya. Sebagian besar manusia, teman-teman sekitar kita akan menolong orang yang sakit. Tapi Tuhan tidak. Bagaimana Tuhan seperti ini bisa bisa dikatakan baik? Hmm?
Ms: (Mahasiswa diam)
Prof: Kamu tidak dapat menjawab bukan? Mari kita mulai lagi. Apakah Tuhan itu baik?
Ms: Ya, tentu.
Prof: Apakah iblis itu baik?
Ms: Tidak
Prof: Dari mana datangnya iblis?

Ms: Dari....Tuhan.
Prof: Tepat. Sekarang katakan padaku, apakah di dalam dunia ini terdapat iblis?
Ms: Ya.
Prof: Iblis berada dimana-mana bukan? Dan Tuhan tidak berbuat apapun bukan?
Ms: Ya.
Prof: Jadi, siapa yang menciptakan iblis?
Ms: (Mahasiswa tersebut tidak menjawab)
Prof: Di dunia ini terdapat kesakitan? Kematian? Ketakutan? Kejelekan? Semua ini merupakan hal-hal yang mengerikan yang ada di dunia ini bukan?
Ms: Ya, prof.
Prof: Jadi, siapa yang menciptakan hal-hal tersebut?
Ms: (Mahasiswa tersebut tidak menjawab)
Prof: Ilmu pengetahuan menyebutkan bahwa kamu mempunyai 5 indera yang dipakai untuk mengetahui dan mengamati lingkungan sekitarmu. Katakan padaku nak, pernahkah kamu melihat Tuhan?
Ms: Tidak pernah prof.
Prof: Katakan padaku, apakah kamu pernah mendengar suara Tuhan mu?
Ms: Tidak pernah prof.
Prof: Pernahkah kamu menyentuh Tuhan mu, merasakan Tuhan mu, mencium keberadaan Tuhan mu? Pernahkah kamu mempunyai pengalaman dengan inderamu mengenai kehadiran Tuhan?
Ms: Tidak pernah, prof.
Prof: Lalu kamu masih percaya kepada Nya?
Ms: Ya.
Prof: Secara emperis, terukur, percobaan perlakuan, ilmu pengetahuan mengatakan Tuhan mu tidak eksis. Apa yang dapat kamu katakan mengenai itu, nak ?
Ms: Tidak suatu apapun. Saya hanya mempunyai keyakinan saya.
Prof: Ya, keyakinan. Itulah masalah yang dihadapi ilmu pengetahuan.


Ms: Prof, apakah panas itu ada?
Prof: Tentu.
Ms: Dan tentu juga ada yang namanya dingin?
Prof: Ya.
Ms: Tidak prof. Itu tidak benar.
(Ruang perkuliahan itu menjadi sangat hening)
Ms: Prof, kau dapat merasakan panas. Lebih panas, super panas, mega panas, sedikit panas, atau tidak panas. Tapi kita tidak mempunyai `dingin'. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol dimana tidak terdapat panas. Tapi kita tidak dapat lebih dari itu. Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah suatu kata yang digunakan untuk mengambarkan ketidakadaan panas. Kita tidak dapat mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah lawan dari panas, prof, hanya ketidakadaan dari panas. (Keheningan terasa saat mahasiswa tersebut berhenti bicara)
Ms: Bagaimana dengan kegelapan prof? Apakah ada yang namanya kegelapan?
Prof: Tentu. Apakah malam itu jika tidak ada kegelapan?
Ms: Kau salah lagi prof. Kegelapan adalah ketidakadaan dari sesuatu. Kau bisa mendapatkan cahaya redup, cahaya normal, cahaya terang, cahaya yang berkedip-kedip. Tapi jika kau tidak mempunyai cahaya, kau tidak memiliki apapun dan itu disebut kegelapan, bukan? Dalam realitas kegelapan itu tidak ada. Jika ada, kau akan mampu membuat kegelapan semakin gelap bukan?
Prof: Jadi, apa maksudmu anak muda?
Ms: Prof, maksudku adalah premis filosofismu terbantahkan.
Prof: Terbantah? Dapat kau jelaskan bagaimana?
Ms: Prof, kau mencoba menjelaskan dalam premis dualitas. Kau berpendapat bahwa ada kehidupan dan kemudian ada kematian, Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Kau melihat konsep keTuhanan sebagai sesuatu yang terbatas, sesuatu yang dapat kita ukur. Prof, ilmu pengetahuan bahkan tidak dapat menjelaskan suatu pikiran. Pikiran menggunakan listrik dan magnetik, tapi tidak pernah terlihat, tidak pernah dipahami sepenuhnya oleh siapapun. Untuk melihat kematian sebagai lawan dari kehidupan adalah tidak peduli terhadap kenyataan bahwa kematian tidak dapat eksis sebagai hal yang substansial. Kematian bukanlah lawan dari kehidupan, hanya ketidakadaan kehidupan. Sekarang, katakan padaku prof, apakah kau mengajarkan mahasiswamu bahwa mereka merupakan hasil evaluasi dari monyet ?
Prof: Jika kau menarik referensi dari proses evaluasi alam, tentu, saya mengajarkan hal tersebut.
Ms : Pernahkah kau mengamati proses evaluasi dengan mata kepalamu sendiri prof ?
Prof: (Profesor tersebut menggelengkan kepalanya dengan sedikit tersenyum, mulai memahami kemana pembicaraan tersebut mengarah).
Ms : Karena tidak ada seorangpun yang pernah mengamati bagaimana proses evaluasi dan bahkan tidak dapat menjelaskan bahwa proses ini masih terus berjalan, apakah kau tidak mengajarkan sesuatu yang hanya pendapatmu, prof?
(Kelas menjadi riuh dengan bisik-bisik pelan para mahasiswa)
Ms: Apakah ada seseorang di kelas ini yang pernah melihat otak professor?
(Seketika terdengar tawa riuh dalam kelas)
Ms: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak professor, menyentuhnya, merasakannya, atau menciumnya?... Tidak seorangpun bukan. Jadi, menurut ketetapan empiris, percobaan perlakuan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa professor tidak mempunyai otak. Dengan segala hormat prof, jadi bagaimana kami dapat mempercayai kuliahmu, prof?
(Ruangan menjadi hening. Profesor memandang kepada mahasiswa tersebut, mukanya tidak dapat di tebak)
Prof: Aku rasa, kau dan teman-temanmu harus melihatnya dengan keyakinan, nak.
Ms: Tepat prof…penghubung antara manusia dan Tuhan adalah KEYAKINAN. Itulah yang menjaga semua hal bergerak sebagaimana mestinya dan kehidupan tetap berjalan.

Saturday, May 15, 2010

Best Memory



3 tahun sudah pun berlalu, dari hari berubah ke minggu, dari minggu berubah ke tahun sampai lah saat ini di mana goresan nostalgia zaman dulu masih mengalir deras di sanubari penulis.

Benarlah kata seorang ulama’, “ persahabatan adalah cara tuhan mengurus kita “. Dengan sahabat, manusia mampu menuju ke hidup yang lebih berarti.

Gambar diatas, merupakan jumlah keseluruhan Siswa Akhir KMI ( form six ) tahun 2008, yang selama 6 tahun berturut-turut telah menemani perjalanan penulis dalam menempuh proses pendidikan dan pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Seramai 880 orang telah merubah diri penulis secara keseluruhan. Prinsip penulis yang selalu mengatakan ” life is better  without bad boy ” berubah kepada  ” Best part of  my life,   when bad boy come to us”. Dengan kehadiran merekalah, kita dapat menilai diri kita kembali. Mereka lah yang selalu mengingatkan diri penulis bahwa baik ataupun jahat bagaimanapun manusia itu, tugas kita sebagai sahabat adalah menemani mereka dan membimbing mereka ke arah yang lebih baik. Ingatlah, bukan tugas kita untuk mengusahakan agar orang mencintai kita, tapi tugas kita adalah mencintai orang.

Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illa Allah. Allahu Akbar.

Terima Kasih Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan mereka untuk menjadi sahabat seperjuanganku. Engkau telah memenuhi memori diriku dengan indahnya persahabatan yang mereka ulurkan padaku. Meskipun terkadang ia bercampur dengan suka duka antara kami.

Jadikanlah Kami selalu terikat antara satu sama lain di dalam memperjuangkan hakikat hidup ini, dan pertemukanlah kami semua di destinasi terakhir-Mu yang terindah iaitu syurga-Mu. Janganlah Engkau pisahkan diri kami, berjalan ke arah yang tidak Engkau ridhoi.

Thursday, April 8, 2010

Rintihan hamba-Mu Ya Ghoffar.............


Bismillahirramanirrahim,
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

Alhamdulillah, hari ini, Engkau masih memberikan kesempatan hidup untukku sehari lagi. Engkau masih memberikan nikmat sehat bagi seluruh tubuhku. Engkau masih memberikan keluarga yang belum kembali ke Rahmat-Mu. Engkau masih memberiku tempat tinggal agar aku mudah berdzikir kepada-Mu. Engkau masih terus-menerus memberiku padahal Engkau tahu bahawa aku tidak mampu membalas kebudikan-Mu, Wahai Tuhanku.

Alangkah celakanya diriku, jika aku tidak mensyukuri nikmatmu. Alangkah, besar adzab-Mu, jika aku mengkufuri apa yang kau berikan. Alangkah, kotornya diriku saat aku memalingkan diriku daripada-Mu.

Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.

Wahai Tuhanku yang Maha Pengampun. Sesungguhnya engkau berkata bahwa Ampunan-Mu lebih besar daripada lautan dosa kami. Rahmat-Mu lebih luas daripada kejahatan yang telah kami lakukan. Bagaimana kami mampu membalasnya ?. Walaupun, kami beribadah setiap pagi dan malam, shalat 5 kali sehari bahkan berpuasa sepanjang minggu, belum mampu menjamin mengecapi syuga-Mu Ya Allah.

Ribuan syaitan datang menghasut diri setiap saat, panggilan nafsu terus tergiang-giang di hati  ini. Kepada siapa lagikah aku harus berlindung melainkan kepada-Mu Ya Allah.

Aku takut Ya Allah, takut saat di Hari Mahsyar nanti, aku kehilangan Kasih Sayang-Mu kerana selalu melupakan-Mu di dunia ini. Zaman ini, Wahai Tuhanku, terlalu banyak kesenangan dunia yang mampu melalaikanku dari mengingati-Mu. Tariklah Nyawa ini secepatnya sebelum syaitan menjadi sahabatku. Dan, jika Engkau meridhoiku, perpanjanglah umurku ini, agar aku mampu membasahi lidahku dengan berdzikir kepada-Mu.

Wahai Tuhan, aku tahu, aku mengerti, bahkan aku memahami siapalah diri yang hina ini layak menjadi ahli syurga tanpa Ridho-Mu, tetapi aku takut untuk melihat siksaan api neraka-Mu Ya Allah, apalagi untuk menjadi bahan bakarnya. Maafkanlah diriku Wahai Tuhanku, kerana Siapa lagi yang dapat Memaafkan diriku kalau bukan Engkau Ya Allah yang Maha Dzat Suci.

Aku yakin dan aku percaya bahawa setetes api neraka-Mu, jika jatuh ke bumi, maka bumi yang dipenuhi dengan orang-orang yang sombong kepada-Mu, dan bangunan-bangunan yang menjadi kemegahan kami, akan hancur sekelip mata. Jikalau begitu, bagaimana aku sanggup untuk berdepan dengan kemarahan api neraka-Mu. Bagaimana mungkin diri ini, mampu untuk menghadap kepada-Mu saat di Hari Hisab nanti dengan jasad yang berlumuran dosa.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Maha Pengampun, Maha Memberi Rahmat, Maha Kuasa atas segala-nya, ku pohon sekali lagi Ya Allah.

”Ambillah nyawa ini, jika Engkau tahu bahwa di saat akhir hidupku, aku akan membelakangi-MU. Aku ingin mati dalam iman masih di dada, dalam kepercayaan bahwa Engkaulah Tuhan-Ku. Janganlah, Engkau hilangkannya sebelum Engkau mencabut nyawaku”

”Engkaulah Yang Maha Berkehendak, hanyalah Ridho-Mu yang ku harapkan. Jika Engkau masih memberiku kehidupan di esok hari, basahkanlah lidah ini dengan dzikir-Mu, penuhkanlah hati ini dengan cinta-Mu, bersihkanlah fikiran ini dengan Nur-Mu dan jadikanlah aku sebagai hamba yang selalu bersyukur kepada-Mu.

MAAFKANLAH AKU YA ALLAH, TUHAN YANG MENCIPTAKAN-ku.



 

www.luthfi679.blogspot.com